Penggusuran Rumah Yahudi

Awal gerakan ekspansi kaum muslimin dimulai semasa kekhalifahan Umar ibnul Khatab r.a Dari jazirah Arab kekeuasaan islam meluas menuju wilayah – wilayah Persia dan ke arah barat menuju mesir. Kaum muslimin hidup dalam kota – kota dengan kebudayaan lebih dari seribu tahun. Bahasa arab menjadi bahasa percakapan sehari – hari , perdagangan , pemerintahan dan ilmu pengetahuan.Kemajuan islam tampak pula dari sejumlah bangunan megah yang bermunculan di negeri-negeri muslim.

     Alkisah,Gubernur Amru bin Ash bermaksud membangun mesjid megah untuk kepentingan kaum muslimin ,Selain sebagai tempat ibadah yang mempersatukan umat.Maka .dengan memobilisasi dana dan tenaga ,rencana pembangunan mesjid dilaksanakan. Dukungan penuh kaum muslimin pun diperoleh.

     Untuk kepentingan tersebut . Terpaksa gubuk reyot milik seorang kakek yahudi di gusur. Sebenarnya sang kakek keberatan dengan penggusuran itu , meski gubuk reyotnya akan diganti dengan rumah yang lebih baik. Keberatan itu di sebabkan masih melekatnya kenangan indah bersama anak dan istrinya gubuk itu.Namun desakan gubernur dan masyarakat membuatnya tak mempunyai pilihan lain.

     Dengan rasa kesal dan marah,si kakek Yahudi meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu. Meski demikian,ia tak berputus asa. Keyakinannya akan keadilan khalifah Umar bin khathab menumbuhkan keberaniannya untuk menghadap khalifah dan menempuh perjalanan jauh ke Madinah.

     Setelah bersusah-payah beberapa minggu dalam perjalanan,sampailah ia di rumah khalifah.Ia segera menyampaikan keluh kesah atas pengusuran rumahnya.Khalifah Umar pun mendengarkan segala keluh kesah itu dengan seksama. Setelah itu,khalifah berkata,

       ”Wahai Bapak tua,” Kata Khalifah,” Aku memahami apa yang engkau rasakan,” lanjutnya sambil mengambil sepotong tulang.” Ini tulang hewan bersih,ibarat tulang belulang manusia.Aku goreskan pedangku di sini. Maka serahkanlah tulang ini kepada gubernurmu,” tambah khalifah Umar sambil menyerahkan tulang yang telah di gores pedang kepada kakek Yahudi.”Apa ini maksudnya ini tuan,” tanya kakek Yahudi penasaran. ”Apakah aku hanya menyerahkan tulang ini saja kepada gubernur.” tegasnya. ”Mungkin khalifah akan menyertakan sepucuk surat bersama tulang ini?” tanya si kakek lagi.”Apa artinya tulang ini? Apakah tulang ini bisa mengembalikan rumahku?” si kakek membatin.

      Khalifah Umar mengangguk dan tersenyum memperhatikan rasa penasaran si kakek Yahudi. Maka si kakek akhirnya kembali ke daerahnya dan menyerahkan tulang bergores pedang kepada sang gubernur tanpa sepatah katapun.

      Di luar dugaan si kakek Yahudi.Ketika gubernur mengetahui tulang bergores pedang itu adalah pemberian Khalifah Umar ibnul Khathab, maka saat itu juga wajah gubernur memucat, tangannya gemetar, lalu air mata pun menetes di pipi gubernur. Si kakek menduga sang gubernur segera kembali normal dengan kewibawaannya dan mampu menguasai perasaannya. Namun sekali lagi sang kakek Yahudi menjadi terheran-heran,karena sang gubernur bukannya berhenti menangis, bahkan malah tangisnya semakin keras dan terisak-isak. Badannya berguncang hebat dan wajahnya memutih pucat pasi.

     Sungguh sang kakek tak pernah menyangka akan mengalami kejadian luar biasa ini.Tak pernah terbayangkan di benaknya kalau tulang bergores pedang tanpa pesan ini mampu membuat Gubernur yang berwibawa menjadi pusat pasi ,gemetar dan menangis terisak keras . Tak tahan hatinya untuk bertanya.

“Wahai Tuan Gubernur kenapa engkau berduka seperti sekarang ini, padahal yang aku tahu engkau demikian berwibawa dan tegar,”lanjutnya. “sementara menurutku tidak ada yang istimewa dengan tulang itu “ katanya lagi ” Hanya tulang kambing biasa yang digores pedang . Tak lebih dan tak kurang,”

     ” Wahai Kakek, ” jawab khalifah .” Apakah engkau tak memahami pesan khalifah ini ? ” tegasnya “Manusia datang kedunia tidak membawa apa-apa .Kemudian merekapun akan menjadi tulang-belulang putih seperti ini ,” kata khalifah sambil menunjukan tulang yang di pegangnya kehadapan sanng kakek . ” Tak ada bekal yang akan di bawa kehadapan pencipta kita kecuali amal soleh ,perbuatan yang lurus seperti lurusnya goresan pedang di atas tulang ini. Dan aku sebagai Gubernur ,berkewajiban menegakan semua. Bahkan ,aku harus memulainya lebih dahulu,,” lanjut khalifah , ” Kalau aku mengingkarinya maka Khalifah yang akan meluruskanku dengan pedangnya,sebagaimana dia membuat garis lurus pada tulangyang keras ini,”lanjut gubernur.”Wahai  kakek,”kata gubernur.”Bagaimana aku tidak berduka. Ternyata aku sebagai gubernur telah berlaku tidak adil, tidak berbuat lurus dalam kasus penggusuran rumahmu,’‘tambahnya. ”Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan ketidak adilanku itu di hadapan Tuhanku kelak.Nanti ketika aku telah berubah menjadi tulang belulang tak ada dayaku lagi untuk memperbaiki diri.Maka jadilah aku mahluk yang merugi. Ketika aku melihat tulang bergores ini,sadarlah aku akan kekhilafanku.Sepertinya aku kini telah menjadi tulang belulang.Semakin aku menyadari ini,semakin takutlah aku,semakin menangislah aku. Beruntung khalifah Umar mengingatkan aku,’‘kata gubernur sambil mengusap air matanya yang meleleh.

     Sang kakek sungguh terkejut dengan penjelasan itu.Tak disangkanya hati gubernur demikian halus.Sangat memperhatikan umatnya dan sangat takut akan ketidakadilan dirinya.”Padahal memang sepantasnya gubuk reyodku di pindah dan digantikan dengan rumah yang lebih layak,”sang kakek membatin.”Sebenarnya Gubernur telah berbuat adil dengan perlakuanya. Justu akulah yang seharusnya tahu diri dan menerima semua ini dengan lega .Karena Gubernur menggusur rumahku untuk membangun mesjid bagi kepentingan orang lain. ” Akulah yang justru egois dengan kenangan lama terhadap rumah itu, “ kata si kakek dalam hatinya.

     Dengan menatap wajah sang gubernur akhirnya si kakek Yahudi bekata , ” Wahai Tuan Gubernur , maafkan aku , ” ujarnya ” Aku terlalu mementingkan diri sendiri. Sekarang aku rela rumahku di gusur demi kepentingan kaum muslimin. Jangankan mendapat penggantian rumah yang lebih baik ,tak dapat gantipun aku rela. Aku rela memberikan rumahku dengan segala kepentingan bersama. Akupun tidak ingin hidup dalam kenangan masa lalu,” tegasnya. ” Wahai Gubernur , Saksikanlah mulai hari ini juga ingin menjadi muslim. Aku ingin memiliki keagungan hati seperti itu , yakin si kakaek.

     Sang Gubernur menjadi gembira . Wajahnya kembali cerah. Dipeluknya sang kakek ini. Dan mereka memandangi mesjid yang berdiri kokoh, Perlambang keagungan hati merka berdua.

     ” Keadilan dapat membuka seseuatu yang tak dapat dibuka dengan tangan keras manusia. “

Sumber : Kisah – Kisah Untuk Keluarga ” DR. Mulyanto “

Iklan

” Tersanjung Rasanya Tinggalkan Jejak "

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: