Misteri Di Dalam Lift

Sebuah gedung Bank Swasta yang terletak di Jalan Soekarno – Hatta berdiri megah dengan angkuhnya. Berdiri mejulang tinggi mencakar langit. Hari berganti malam, biasan cahaya matahari pun tak sanggup membiaskan cahayanya dikegelapan sang malam yang merayap menjauhi sang mentari. Berganti temaram cahaya lampu menghiasi sepanjang jalan kota. Sebuah ruangan yang teletak di lantai 20 gedung tersebut, terlihat lampunya masih menyala.Menandakan masih ada aktivitas diruangan tersebut.

Duduk termenung seorang pria separuh baya di bangku lorong ruangan.Matanya tertuju kesebuah TV plasma yang tergantung di castingnya pada tembok.Tatapannya penuh kehampaan, pikirannya kosong serasa tak membekas apa apa yang ditayangkan ditelevisi tersebut, karena teringat keceriaan canda dan tawa riang anak beserta isterinya. Pria separuh baya tersebut menengok ke arah jam dinding yang waktu itu menunjukan pukul 23:20.Matanya semakin sayu ,rasa ngantuk menggelayuti matanya yang sukar sekali untuk di buka. Sudah beberapa kali mungkin juga tak terhitung mulutnya juga menguak. Sesekali  di gosok – gosokannya pula punggung tangannya ke matanya memaksa matanya tetep melek.

Terlihat dari tingkah lakunya ada suatu keresahaan dalam pikirannya setelah membaca sms dari istrinya tadi sore “ Pah pulangnya jangan malam-malam ya , Mamah sudah beres cutinya ..: Sekarang sudah mulai shalat lagi “ { Maaf  cuti di sini istrinya selesai haid } Kalimat itulah yang di tunggu-tunggu oleh pasangan suami istri katanya kalau berhubungan suami istri di malam jum’at  sama dengan membunuh 1000 yahudi , dan beribu sugesti mistik masyarakat yang terkandung didalamnya apalagi jum’at itu malam jum’at kliwon.

“ Pak….! Pak….! Pak Memet”

Terdengar suara nyaring seorang wanita memanggilnya,memecahkan kesunyian malam sekaligus membuyarkan segala asa & lamunanya . Suara tersebut terdengar dari seberang ruangan.

“ Ya Bu …” Pak Memet menjawab suara yang memanggilnya sambil beranjak dari duduknya sambil menuju suara yang memanggilnya.

            Pak memet sukirmat nama lengkapnya jebolan Pakultas negeri tersohor di bandung tapi nasibnya kurang beruntung , 1 bulan yang lalu beliau di PHK dari sebuah perusahaan yang gulung tikar karena moneter. Sekarang dia menjadi office boy di sebuah perkantoran merangkap jadi supir : pikirnya dari pada nggagur.

Pak “ Ini ruangan tolong di bersihin ya , jangan lupa pintu di kunci dan ingetin juga besok saya ada presentasi , eh.. besok pagi-pagi sekali ya saya jemputnya . Sekarang ga usah di anter da yang jemput.

Nyerocos ngomongnya orang lain Cuma satu kata dia 1000 kalimat mungkin . ” Uh dasar ibu Negara bukannya ucapin terima kasi atau ngasi apa ke ma guwe dah di temenin lembur. malahan nyuruhnya minta ampiun kalo ngmong ga pake koma “,gerutu pak memet sambil mengerjakan pekerjaannya meskipun rada sedikit kesal.

            Tak selang beberapa lama apa yang di perintahkan atasnannya selesai juga. Karena malam yang hening sehingga malam itu terasa sunyi atau mungkin sugesti yang ada dengan malam jum’at keliwon atau mungkin perasaan pak memet saja , ada perasaan takut di hatinya terasa ada yang menemaninya sembari dia bekerja tu. Apalagi setelah lampu di matikan ,. Bulu kuduknya terasa berdiri. Setengah melompat Pak memet beranjak keluar dari ruangan setelah menyelesaikan pekerjaannya yang di rasa cukup selesai. Setengah berlari Pak Memet menyusuri lorong lobi menuju lift hendak turun melalu jalan pintas. Tak lama dia sampai juga didepan lift lalu dia menekan tombol turun.

Hening terasa di dalam lift, tiba-tiba lift berhenti sekitar lantai 15. Tersentak kaget dia, membuyarkan segala lamunannya. Rasa takut yang ada di fikirannya kian memuncak sampai ke ubun-ubun. Jangan…jangan…jangan…, itu yang terus ada difikirannya. Tiba-tiba semuanya buyar seketika saat pintu lift terbuka. Buju buneng…bahenolnya…putih lagi kulitnya, gumam Pak Memet dalam hati sambil mengusap rambutnya supaya terlihat agak rapi. Meskipun dia sadar dia itu siapa, hanya seorang office boy plus sopir yang sudah beranak isteri. Tapi naluri prianya tak memandang semua itu. Ternyata yang masuk seorang wanita berperawakan bahenol, memang parasnya cantik berkulit putihkuning langsat  dengan rambut terurai berperawakan tinggi semampai bersepatu hak tinggi  dan memakai rok mini.

Semakin berdebar hati Pak memet, seeeeerrrr…..nud…. ada perasaan apa? Ga tau itu. Tatkala wanita tersebut menyunggingkan senyuman dan menyapanya dengan suara lirih & lembut.

“Permisi Pak…ikutan yah…?” ujarnya.

“Ya iya iya silahkan..” grogi sekali Pak Memet dibuatnya oleh wanita yang baru masuk ke lift itu. Pak Memet mundur kebelakang, lift pun  bergerak turun setelah pintunya ditutup. Disela perasaan hati pak Memet gundah tak menentu tiba-tiba lift mendadak berhenti di lantai 13 tanpa tahu apa penyebabnya.

“Sial…!” gumam pak Memet. Beberapa detik kemudian lampu dalam lift pun mati. Hening terasa di dalam lift tak ada yang angkat bicara. Berlalu waktu tak terasa lift pun bergerak Suasana hening yang sangat menegangkan sekali buat pak memet. Perasaan takut menghantuinya : Jatuh mungkin  lifnya : atau sejuta ketakutan lain yang berkecambuk dalam pikirannya , sugesti malam jum’at dan angka sial angka 13 membayangi pikirannya . Tiba- tiba di sela semua itu tercium bau yan tidak sedap yang sangat menyengat dari depannya tempat wanita yang bareng di lift tadi. Karena gelap pak memet tak bisa melihat wanita tersebut atau mungkin sudah tidak ada wanita tersebut di depannya.

            Bau tak sedap semakin menyengat memenuhi ruangan lift , karena tidak ada celah udara yang keluar. Lemas terasa lutut pak memet sambil menutup mulut dan hidungnya mencoba menfilter bau yang masuk ke hidungnya. Tiba tiba lift pun mulai bergerak turun meskipun lampu dalam lift belum menyala, tak lama selang beberapa detik tibalah lift tersebut di lantai dasar setengah meloncat dari dalam lift pak Memet keluar menghirup udara segar di barengi jantungnya yang berdebar-debar berdetak sangat cepat atas kejadian yang menimpanya tadi.

            “Alhamdullillah Ya Allah”, ujar pak Memet menengadahkan tangan sambil berlalu dari lift, tiba-tiba di sela semua itu serasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang tak berani pak Memet menengok ke belakang. Ternyata wanita cantik tadi yang di dalam lift bersamaan yang menepuk pundaknya.

            “Pak…..Pak…..Pak “ Ujar wanita berparas cantik tadi sambil memelas dan mungkin sambil menahan rasa malu. “ Maafkan saya pak atas kejadian tadi, saya kentut……” Pak Memet berlalu dari wanita tersebut sambil tak menengok sedikitpun kearah wanita yang dibelakangnya….

Iklan

2 Komentar

  1. purwadi

    hehehe….semprul..kirain berubah jd anak kuntil…

” Tersanjung Rasanya Tinggalkan Jejak "

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: