Belajar dari bentuk wajah

Subhanallaah di kehidupan keseharian kita pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Ciptaan maha dahsyat  dari sang maha karya , Kalau kita ukur ukuran wajah tak lebh dari satu jengkal atau 2 jengkal saja permukaan wajah. Padahal kita mempunyai mata yang sama , hidung yang sama ,bibir yang letaknya pun sama .Meskipun satu ibu dan satu ayah wajahnya pasti berbeda , Allah menciptakan anak kembar pun yang satu rahim, lahir dan tumbuh berkembangnya sama pasti ada perbedaan” Subhanallah ciptaan yang sangat sempurna“.
Belajar Dari  salah seorang ulama dari bandung, Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada yang salah kalau kita buat semacam target. Misal : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuk tapi yang utama adalah pancaran yg tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Pernah suatu ketika kita berjumpa dengan seorang walaupun kulit tak putih tak kuning tetapi ketika memandang wajahnya.. sejuk sekali! Senyum begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air, sejuk menyegarkan di pagi hari,  dan saat menatap wajahnya terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi ternyata dibalik wajahnya memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat tergambar saat kita memandang sejuk pancaran rona wajahnya.
Nah saudaraku kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyuman yang tulus, pancaran wajah nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; {maaf bukan bermaksud meremehkan} ada pula yang wajah bengis tutur katanya ketus sorot mata kejam senyuman sinis dan sikap pun tak ramah. Begitulah wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain yang belum mendapat ilmu. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita dan buang jauh-jauh raut wajah yang tak ramah tak menenteramkan dan yang tak menyejukkan.
Tidak ada salah jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibir di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangka dia kurang senyum sinis atau kurang ramah. Subhanallaah bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun.
Sedangkan bagi wajah untuk tersenyum itu gampang maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja tapi yang utama adalah inginkah kita membahagiakan orang lain? Inginkah kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada tiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yg menyapa – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang cara bersikap ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Adapun kemuram durjaan, ketidak enakkan ,kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibat kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Maka terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata berbicara hanya separuh perhatian.  Padahal kalau kita sudah tak mengutamakan orang lain maka curahan kata-kata cara memandang cara bersikap itu tak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.
Marilah kita berlatih diri meneliti wajah tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi mengambil tauladan wajah yang baik dan menghindari yang tak baik dan cari kunci kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain! Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita walaupun hanya beberapa menit walaupun hanya beberapa detik subhanallaah. 
Iklan

” Tersanjung Rasanya Tinggalkan Jejak "

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: